Kisah penaklukan kota SAMARKHAND
Samarkhand, adalah sebuah negeri di daerah Asia Tengah,
ibukota Uzbekistan saat ini.
Saat itu dikirimlah pasukan Islam dipimpin oleh Quthaibah
bin Muslim. Dengan tujuan untuk menyelamatkan dan mengislamkan Samarkhand. Pada
dini hari, dimulailah operasi penaklukan Samarkhand. Penaklukan itu terjadi
dengan sangat mudah tanpa perlawanan yang berarti, karena saat itu mayoritas
penduduk Samarkhand sedang terlelap tidur. Sehingga ketika subuh atau pagi
harinya mereka baru menyadari bahwa kota mereka telah ditaklukkan.
Melihat kota Samarkhand telah dikuasai dengan tiba-tiba,
mereka pun lantas mengajukan keberatan kepada panglima perang. Kenapa mereka
keberatan? Sebab mereka tahu bahwa penaklukan yang terjadi dini hari itu tidak
sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad, tidak sesuai dengan sunnah Rasululullah,
sehingga mereka mengajukan keberatan. Selama ini mereka mendengar bahwa jika
ada tentara Islam yang hendak menawan sebuah kota, sesuai dengan ajaran Nabi
mereka, maka mereka akan memberitahukan terlebih dahulu kapan mereka akan tiba,
melalui pintu kota sebelah mana mereka akan menyerang, berapa jumlah personel
yang dikerahkan, kemudian tentara Islam dilarang oleh Rasulullah untuk
menghancurkan bangunan, membunuh anak-anak, orang-orang lanjut usia dan wanita
serta musuh yang sudah menyerah, juga dilarang menghancurkan tempat-tempat
ibadah, dilarang merusak pohon-pohon dsb.
Bagi Rasulullah dan tentara Allah yang haq, mengislamkan
musuh lebih mulia daripada membunuh atau menawannya dalam keadaan kafir. Sebab
salah satu tujuan jihad dalam Islam bukan hendak membunuh musuh
sebanyak-banyaknya tetapi justru menyelamatkan musuh sebanyak-banyaknya, yaitu
dengan membawa mereka ke dalam agama yang selamat lagi menyelamatkan yaitu
Islam.
Maka rakyat Samarkhand kemudian mengirim utusan kepada
khalifah Sayidina Umar bin Abdul Aziz tentang keberatan mereka dalam penaklukan
Samarkhand. Khalifah pun faham apa yang terjadi, lantas beliau memanggil
hakimnya untuk mengadili panglima perang dan seluruh pasukan yang terlibat.
Akhirnya diputuskan bahwa penaklukan Samarkhand yang baru saja dilakukan adalah
tidak sah menurut hukum Islam, dan pasukan yang terlibat mendapat hukuman yaitu
dengan cara meminta maaf satu per satu kepada seluruh penduduk kota Samarkhand.
Maka terjadilah peristiwa luar biasa, pasukan Muslim yang
mencapai jumlah ribuan itu lantas bertebaran keseluruh pelosok kota, door to
door, untuk meminta maaf kepada seluruh penduduk kota Samarkhand tanpa
terkecuali. Bagi mereka ketaatan kepada Allah, Rasulullah dan Pemimpin adalah
lebih utama.Sungguh peristiwa luar biasa, mengharukan, dan ajaib, yang belum
pernah diajarkan oleh Pemimpin ataupun diajarkan dalam ilmu perang mana pun.
Itulah indahnya Islam.
Beberapa bulan kemudian dilakukan lagi ekspedisi oleh
tentara Muslim ke Samarkhand. Kali ini tentu saja semua dilakukan dengan
Standard Operating Procedure (SOP) yang diajarkan Rasulullah SAW.
Maka apa yang terjadi? Yang terjadi adalah sebuah keajaiban.
Tanpa disangka-sangka, penduduk Samarkhand ternyata sudah menanti di depan
pintu kota untuk menyambut pasukan Islam tersebut, bukan dengan senjata tetapi
dengan senyuma hangat yang penuh harapan. Mereka berbondong-bondong ingin
memeluk Agama Islam, karena mereka telah merasakan akhlak Islam yang sungguh
agung yang diajarkan Rasulullah SAW, dan merasakan bahwa hanya dengan Islam
mereka akan mendapat keselamatan. Hati mereka sugguh puas dan redha menerima
kedatangan Islam.
Itulah
keajaiban dari keberkatan seorang Pemimpin bertaqwa, rakyat yang bertaqwa dan
tentara yang bertaqwa yang memegang teguh tali agama Allah. Lalu siapa yang
mengajarkan pemusnahan, penghancuran, pengeboman dan pembunuhan seperti zaman
sekarang ini?Meskipun atas nama Islam tetapi jika dilakukan bukan seperti yang
dicontohkan Rasulullah maka hakikatnya bukanlah Islam, tetapi merupakan
ajaran-ajaran dari musuh-musuh Islam yang diamalkan oleh orang Islam yang tidak
faham Islam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar